Muara Enim (Kemenag Sumsel) — Suasana ruang guru Madrasah Aliyah Negeri 1 Muara ENim belakangan ini berubah menjadi ruang kerja komunal yang sarat konsentrasi. Hanya terdengar deru halus kipas angin, ketukan cepat jemari di atas papan ketik, dan sesekali helaan napas panjang. Setelah mendampingi siswa melewati Asesmen Akhir Tahun (AAT), kini giliran para guru yang berpacu dengan waktu: memasukkan ribuan data nilai ke aplikasi Rapor Digital Madrasah (RDM).
Bagi masyarakat awam, pengisian rapor mungkin terlihat sekadar memasukkan angka. Namun bagi para pendidik, RDM adalah muara dari seluruh perjuangan, objektivitas, dan masa depan akademik siswa selama satu semester penuh. Lebih dari Sekadar Angka, Validasi Perjuangan Siswa. Menginput nilai di RDM bukan tugas administratif yang mekanis. Di balik setiap angka yang diketik, ada proses panjang yang harus dipertanggungjawabkan oleh guru. Guru tidak hanya memasukkan nilai ujian AAT. Aplikasi RDM menuntut detail nilai harian (formatif), nilai tugas, portofolio, hingga penilaian sikap spiritual dan sosial.
Bagi guru kelas XII (atau kelas XI yang bersiap), ketelitian input nilai sangat krusial. Salah memasukkan angka bisa berdampak fatal pada validitas data siswa saat diakumulasikan untuk keperluan jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) menuju perguruan tinggi. “Setiap angka yang saya klik adalah hasil keringat anak didik saya. Lelah itu pasti, mata perih menatap layar berjam-jam, tapi ketelitian adalah harga mati demi keadilan hak belajar mereka,” ujar salah seorang guru rumpun sains dengan mata yang masih terpaku pada layar laptopnya. Selasa (2/6/2026).
Digitalisasi melalui RDM yang digagas Kementerian Agama ini memang memangkas birokrasi kertas secara luar biasa. Kendati demikian, sistem berbasis pusat atau server lokal ini memicu tantangan tersendiri ketika digunakan secara serentak oleh ribuan guru di seluruh Indonesia. Untuk mendapatkan akses jaringan (traffic server) yang lancar sudah menjadi rahasia umum. Mereka memanfaatkan waktu-waktu sunyi agar proses loading aplikasi berjalan lebih cepat, demi mengejar tenggat waktu rapat pleno kenaikan kelas dan pembagian rapor. Kesibukan ini kian berlapis karena karakteristik kurikulum MAN 1 Muara Enim. Berbeda dengan sekolah umum, jumlah mata pelajaran (mapel) di madrasah jauh lebih banyak karena adanya pembagian rumpun agama (Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, SKI, dan Bahasa Arab).
Seorang guru madrasah yang mengampu beberapa kelas bisa memegang tanggung jawab menginput data penilaian untuk ratusan siswa sekaligus. Ditambah lagi, implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru menyusun deskripsi capaian kompetensi secara naratif dan spesifik untuk setiap anak, bukan sekadar kalimat otomatis dari sistem.
Meski menguras energi, hadirnya RDM membawa dampak positif yang masif bagi transparansi pendidikan di MAN. Sistem ini menutup celah bagi praktik manipulasi nilai secara ilegal dan memaksa ekosistem madrasah untuk melek teknologi secara total. Laptop guru yang tetap terbuka adalah bukti otentik. Bahwa di balik selembar rapor yang nantinya diterima dengan senyum oleh orang tua siswa, ada dedikasi senyap para guru yang melampaui jam kerja formal mereka. (Kmd).
