Muara Enim (Kemenag Sumsel) – Sebuah langkah inspiratif ditunjukkan oleh MAN 1 Muara Enim. Alih-alih menggunakan dana bantuan atau iuran siswa, pihak madrasah berhasil menciptakan ekosistem pertanian mandiri yang berdampak besar. Seluruh hasil penjualan dari panen kebun madrasah kali ini dialokasikan kembali untuk membeli pupuk NPK Mutiara kualitas premium guna memastikan keberlanjutan lahan pangan mereka. Kebun madrasah yang mulanya hanya memanfaatkan lahan tidur di belakang sekolah, kini telah berubah menjadi lumbung pangan produktif. Kebun tersebut ditanami berbagai jenis sayuran, palawija, hingga buah-buahan yang dirawat bersama oleh para guru dan siswa sebagai bagian dari proyek penguatan profil pelajar.
Kepala MAN 1 Muara Enim, iin Parlina, menjelaskan bahwa keputusan membelikan pupuk Mutiara dari hasil jual kebun ini adalah investasi jangka panjang untuk kesuburan tanah dan kualitas hasil panen berikutnya. “Kami ingin mengajarkan kepada siswa bahwa bertani itu tidak hanya sekadar menanam lalu habis dipanen. Ada siklus yang harus dijaga. Hasil jualan panen kemarin sengaja tidak kami gunakan untuk konsumsi konsumtif, melainkan kami belikan pupuk berkualitas tinggi (Mutiara). Ini agar tanah tetap ternutrisi, dan panen berikutnya bisa lebih melimpah,” ujar Iin parlina dengan bangga. Jum’at (5/6/2026).
Langkah ini membawa dampak domino yang sangat positif. Pertama, dari sisi edukasi, siswa MAN 1 Muara Enim belajar langsung tentang manajemen keuangan agribisnis dan pentingnya nutrisi tanaman. Mereka melihat sendiri bagaimana hasil kerja keras mereka bisa menghasilkan modal baru untuk meningkatkan kualitas produksi. Dampak sosial dan ketahanan pangan. Hasil panen dari kebun madrasah ini sebagian dijual ke warga sekitar dengan harga yang lebih murah dari pasar, dan sebagian lagi digunakan untuk pemenuhan gizi siswa di madrasah.
Dengan dibelinya pupuk Mutiara yang dikenal kaya akan unsur hara Makro dan Mikro tanaman di kebun MAN 1 Muara Enim dipastikan akan tumbuh lebih sehat, lebih cepat panen, dan lebih tahan terhadap hama. “Senang sekali rasanya melihat sayur yang kami tanam laku terjual. Sekarang uangnya dibelikan pupuk bagus. Kami jadi makin semangat merawat kebun ini karena tahu hasilnya nanti akan jauh lebih bagus lagi,” ungkap pembina adiwiyata yang aktif dalam kegiatan berkebun.
Apa yang dilakukan oleh MAN 1 Muara Enim ini menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah penghalang untuk berinovasi. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan mengelolanya secara profesional, madrasah mampu mandiri secara pangan dan finansial di ruang lingkup sekolah. Ke depan, pihak madrasah berharap program “Dari Kebun, Untuk Kebun” ini dapat terus berjalan secara konsisten. Pupuk Mutiara yang baru dibeli kini siap ditaburkan pada komoditas baru yang diproyeksikan akan panen tiga bulan ke depan.
Melalui perputaran hasil panen yang cerdas ini, madrasah tidak hanya berhasil menghijaukan lingkungan sekolah, tetapi juga berhasil menanamkan benih jiwa kewirausahaan dan kepedulian lingkungan yang kuat di dalam diri generasi muda. (Kmd)
