Muara Enim (Kemenag Sumsel) – Memasuki awal bulan kemarau yang ditandai dengan suhu udara yang kian menyengat dan penurunan curah hujan, langkah antisipatif langsung diambil oleh keluarga besar Madrasah Aliyah Negeri 1 Muara Enim. Guna mencegah kekeringan dan kerusakan lingkungan sekolah, para siswa kini digerakkan secara rutin untuk melakukan aksi penyiraman tanaman secara massal dan terjadwal di seluruh lingkungan madrasah.
Aksi ini bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah gerakan kepedulian lingkungan yang berdampak nyata terhadap pelestarian ekosistem dan kenyamanan proses belajar-mengajar. Setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi dan sore hari menjelang pulang, area taman, koridor kelas, hingga lobi madrasah dipenuhi oleh riuh siswa yang membawa gembor dan selang air. Pembagian tugas dilakukan secara bergilir per kelas di bawah bimbingan guru dan kader Adiwiyata madrasah.
“Jika memasuki kemarau tanaman ini tidak dirawat secara intensif, taman sekolah yang sudah kita bangun bertahun-tahun bisa mati dan gersang. Kalau sekolah gersang, debu mudah masuk dan kelas menjadi sangat panas. Ini adalah tanggung jawab kami sebagai siswa untuk menjaga rumah kedua kami tetap sejuk,” ujar salah seorang pengurus OSIM MAN 1 Muara Enim. Rabu (3/6/2026).
Gerakan rutin di musim kemarau ini membawa dampak signifikan yang langsung dirasakan oleh warga madrasah, rutinitas penyiraman berhasil menjaga kelembapan tanah dan udara di sekitar lingkungan madrasah. Hasilnya, suhu di dalam ruang kelas tetap relatif sejuk dan nyaman untuk belajar meskipun cuaca di luar ruangan sangat terik. Kegiatan ini secara tidak langsung menanamkan rasa kepemilikan (sense of belonging) dan tanggung jawab emosional siswa terhadap alam sekitar. Mereka belajar bahwa kenyamanan fasilitas publik menuntut kepedulian bersama. Tanaman hias dan pohon peneduh di MAN 1 Muara Enim tetap tumbuh subur dan hijau di tengah daun-daun kering yang mulai berguguran di luar area madrasah. Hal ini sekaligus meminimalkan polusi debu yang biasa meningkat saat kemarau.
Kepala MAN 1 Muara Enim memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi para siswa. Pihak madrasah juga telah mengoptimalkan sistem penampungan air dan pemanfaatan limbah air bersih (seperti air bekas wudu yang dialirkan ke bak penampungan taman) agar aksi penyiraman ini tetap hemat energi dan ramah lingkungan.
“Kami tidak ingin kemarau menjadi alasan lingkungan kita menjadi gersang dan layu. Apa yang dilakukan anak-anak adalah implementasi nyata dari iman, yaitu menjaga kebersihan dan kelestarian bumi. Kami berharap budaya baik ini tidak hanya dilakukan di madrasah, tetapi juga dibawa dan diterapkan di lingkungan rumah mereka masing-masing,” pungkas Iin Parlina Kepala MAN 1 Muara Enim.
Melalui langkah kecil yang konsisten ini, MAN 1 Muara Enim membuktikan bahwa tantangan perubahan musim dapat dihadapi dengan gotong royong dan kesadaran lingkungan yang tinggi. (Kmd).
