Muara Enim (Kemenag Sumsel) – Pemandangan berbeda dan penuh gelak tawa mewarnai lapangan utama MAN 1 Muara Enim pada hari Senin (8/6/2026). Jika biasanya ajang class meeting pasca-penilaian akhir semester hanya diikuti oleh para siswa, kali ini giliran para guru yang turun ke lapangan untuk bertanding. Kehadiran para pendidik sebagai peserta lomba ini terbukti membawa dampak psikologis dan sosial yang sangat positif bagi seluruh warga sekolah.
Lomba khusus guru yang diinisiasi oleh pengurus OSIS bekerjasama dengan bagian kesiswaan ini mempertandingkan beberapa cabang olahraga. Kepala MAN 1 Muara Enim, Iin Parlina, menjelaskan bahwa keterlibatan guru dalam class meeting ini bukan sekadar untuk mencari pemenang atau hiburan semata, melainkan sebuah strategi edukatif untuk menyegarkan kembali pikiran (refreshing) setelah masa ujian yang menegangkan.
“Selama ujian, hubungan guru dan siswa cenderung formal dan penuh tekanan. Melalui lomba ini, kami ingin mencairkan ketegangan tersebut. Ketika siswa melihat gurunya bisa tertawa, bekerja sama, bahkan melakukan kesalahan lucu di lapangan, sekat kaku itu runtuh. Ini sangat bagus untuk kesehatan mental seluruh warga sekolah,” ujar Iin Parlina.
Dampak paling nyata dari kegiatan ini adalah melonjaknya antusiasme siswa. Siswa kelas X dan XI MAN 1 Muara Enim berkumpul di pinggir lapangan, bersorak sorai memberikan dukungan kepada wali kelas atau guru mata pelajaran favorit mereka. Beberapa siswa bahkan menyiapkan spanduk kreatif dan yel-yel khusus untuk menyemangati para guru. Kedekatan emosional yang terbangun secara spontan ini diyakini akan berdampak positif pada proses belajar-mengajar di kelas pada semester berikutnya. “Seru sekali melihat guru yang biasanya tegas di kelas mengajar, ternyata saat dilapangan sangat kocak saat ikut lomba takraw. Kami merasa guru-guru sekarang jadi lebih asyik dan lebih dekat dengan kami. Belajar nanti pasti jadi tidak kaku lagi,” ungkap, Ketua OSIM MAN 1 Muara Enim.
Selain aspek hiburan, aksi para guru di lapangan juga menjadi ruang edukasi karakter secara langsung. Siswa menyaksikan bagaimana para guru menunjukkan sikap sportif, menerima kekalahan dengan tawa, dan menunjukkan kerja sama tim yang solid meskipun berasal dari latar belakang usia yang berbeda. Kegiatan seperti ini efektif menurunkan hormon stres pada anak dan guru. Ketika guru mau memposisikan diri sejajar dalam permainan, rasa percaya siswa kepada guru akan meningkat, yang pada akhirnya membuat lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. (Kmd).
