Muara Enim (Kemenag Sumsel) – Di tengah tantangan rendahnya literasi Al-Qur’an di kalangan remaja, sejumlah guru di Madrasah Aliyah Negeri 1 Muara Enim mengambil langkah nyata. Bukan sekadar mengejar kurikulum, mereka memberikan pendampingan intensif bagi siswa yang masih kesulitan membaca Al-Qur’an demi membangun fondasi spiritual yang kokoh.
Data dari MAN 1 Muara Enim sebelumnya menunjukkan perlunya penguatan kompetensi guru untuk mengatasi banyaknya siswa yang belum lancar membaca Al-Qur’an. Merespons hal ini, guru MAN 1 Muara Enim menerapkan strategi pendampingan individu yang terbukti mampu meningkatkan kecepatan dan ketepatan bacaan siswa secara signifikan.
Program yang sering disebut sebagai “Klinik Al-Qur’an” atau Program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) ini melibatkan beberapa pendekatan utama seperti Diagnosa Kemampuan yaitu diaman Siswa MAN 1 Muara Enim dikelompokkan berdasarkan tingkat kelancaran, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga hukum tajwid. Pendidik meluangkan waktu khusus di luar jam pelajaran untuk membimbing siswa secara personal guna meningkatkan kepercayaan diri mereka. Pemanfaatan Metode Tartil seperti Penggunaan metode yang variatif seperti Iqro’, Qiro’aty, hingga metode Tartil membantu siswa lebih cepat memahami makhraj dan tajwid.
Pendampingan ini tidak hanya berdampak pada kemampuan kognitif. Berbagai riset menunjukkan bahwa interaksi rutin dengan Al-Qur’an memberikan dampak positif pada kesehatan mental dan ketenangan batin siswa. Siswa yang awalnya merasa rendah diri karena belum lancar membaca, kini menunjukkan motivasi belajar yang lebih tinggi dan stabilitas emosional yang lebih baik. “Tujuan kami bukan hanya agar mereka bisa membaca, tapi agar Al-Qur’an menjadi sahabat hidup mereka,” ujar salah satu koordinator keagamaan MAN 1 Muara Enim. Jum’at (27/02/2026
Langkah yang diambil oleh MAN 1 Muara Enim ini sejalan dengan visi besar menciptakan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter Qur’ani yang kuat di era digital. Melalui sinergi antara guru, siswa, dan dukungan orang tua, program pendampingan ini diharapkan mampu terus menekan angka buta aksara Al-Qur’an dan mencetak lulusan madrasah yang religius serta kompeten. (Kmd).
