Muara Enim (Kemenag Sumsel) — Suasana ruang perpustakaan MAN 1 Muara Enim tampak berbeda dan dipenuhi aktivitas literasi yang adaptif. Puluhan siswa terlihat tekun meneliti berbagai sumber bacaan, mulai dari buku paket pelajaran, edisi cetak koran lokal, hingga majalah nasional. Bukan sekadar membaca, para siswa ini tengah menjalankan proyek literasi kritis: mengidentifikasi, memilah, dan mengelompokkan kosakata baru sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing.
Kegiatan yang digagas sebagai bagian dari penguatan kemahiran berbahasa ini bertujuan untuk memperluas perbendaharaan kata (vokabuler) siswa secara tematik. Para siswa membagi istilah-istilah yang mereka temukan ke dalam beberapa segmen seperti menginventarisasi kata seperti inflasi, likuiditas, transaksi, dan investasi yang banyak ditemukan pada rubrik berita utama koran.Mengumpulkan istilah digitalisasi, ekosistem, algoritma, dan rekayasa genetika dari majalah populer dan buku teks IPA. Mengelompokkan istilah reformasi, diplomasi, birokrasi, dan kedaulatan dari kolom opini dan berita nasional. Menganalisis gaya bahasa, majas, serta kata serapan yang mendominasi cerpen dan artikel budaya.
Kepala MAN 1 Muara Enim mengatakan ” pemanfaatan perpustakaan sebagai laboratorium bahasa ini terbukti meningkatkan daya kritis siswa. Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap istilah teknis di berbagai media membuat siswa lebih percaya diri saat menyusun karya ilmiah maupun saat berdiskusi di kelas”, ujar Iin Parlina Kepala MAN 1 Muara Enim. Senin (14/9/2026).
Dampak positif dari kegiatan ini langsung dirasakan oleh para siswa. Selain memperkaya perbendaharaan kata untuk kebutuhan akademik, mereka juga makin mahir memahami konteks berita terkini secara komprehensif. Pembiasaan mengolah informasi dari media cetak ini sekaligus menjadi langkah nyata MAN 1 Muara Enim dalam membentengi generasi muda dari bahaya misinformasi dan rendahnya minat baca di era digital. (Kmd)
