Muara Enim (Kemenag Sumsel) – Pekan classmeeting yang digelar di Madrasah Aliyah Negeri 1 Muara Enim Model semester ini menyuguhkan pemandangan yang berbeda. Bukan sekadar pengisi waktu luang pasca-ujian, turnamen futsal antar-kelas yang digelar di lapangan utama madrasah bertransformasi menjadi laboratorium nyata untuk melatih mental, kedewasaan, dan jiwa sportivitas para siswa.
Turnamen yang berlangsung selama tiga hari ini mempertemukan tim-tim terbaik dari perwakilan kelas X dan XI. Atmosfer pertandingan berjalan sangat kompetitif. Riuh rendah dukungan dari masing-masing kelas membuat suasana menyerupai kompetisi profesional. Namun, di balik sengitnya perebutan bola di lapangan, nilai-nilai respek justru menjadi sorotan utama.
Kepala menjelaskan bahwa madrasah secara sengaja mendesain kegiatan classmeeting tahun ini dengan menekankan indikator penilaian pada aspek non-teknis, yaitu perilaku dan sportivitas. “Kami sampaikan sejak awal kepada para wali kelas dan kapten tim: piala bisa dibeli, tetapi kehormatan dan karakter sportivitas tidak ada harganya. Futsal ini adalah media. Target utamanya adalah melatih siswa bagaimana cara menang tanpa sombong, dan bagaimana cara menerima kekalahan dengan kepala tegak,” tegas Iin Parlin kepala MAN 1 Muara Enim saat memantau jalannya laga final, Jum’at (12/6/2026).
Dampak dari ketegasan aturan tersebut sangat terasa di lapangan. Pada laga perempat final antara Kelas X.1 melawan Kelas XI.1, sempat terjadi benturan keras yang membuat salah satu pemain terjatuh. Ali Imron, wasit yang juga guru olahraga madrasah, belum sempat meniup peluit, namun pemain yang melakukan pelanggaran langsung menghentikan bola, membantu lawannya berdiri, dan meminta maaf secara terbuka. Momen tersebut langsung disambut tepuk tangan gemuruh dari seluruh penonton yang memadati pinggir lapangan. Rivalitas antar-kelas yang biasanya rentan memicu gesekan ego remaja, berhasil diredam oleh kesadaran akan pentingnya menjaga rasa persaudaraan.
“Jujur, awalnya kami sangat menggebu-gebu ingin menang demi gengsi kelas. Tapi melihat bagaimana teman-teman dari kelas lain bermain bersih dan saling menghargai, kami sadar bahwa esensi classmeeting ini adalah kebersamaan. Menang itu bonus, persahabatan itu yang utama,” ungkap Faturrahman, kapten tim Kelas XII MIPA.
Dampak positif dari kegiatan ini tidak berhenti di dalam lapangan futsal saja. Pihak madrasah mencatat, melalui kegiatan ini, komunikasi antar-siswa dari jenjang kelas yang berbeda menjadi lebih cair. Ketegangan atau jarak antara senior (kelas XI) dan junior (kelas X) yang biasanya sering terjadi, berhasil terkikis lewat jabat tangan dan pelukan hangat di akhir pertandingan. Turnamen futsal classmeeting MAN 1 Muara Enim ini akhirnya dimenangkan oleh tim Kelas XI setelah melalui babak adu penalti yang mendebarkan. Namun, dalam kompetisi ini, seluruh siswa MAN 1 Muara Enim adalah pemenangnya pemenang atas ego dan emosi mereka sendiri, demi tegaknya sebuah nilai bernama sportivitas. (Kmd).
