Muara Enim (Kemenag Sumsel) – Usai melewati ketatnya pekan Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS), suasana di MAN 1 Muara Enim kembali ceria dan dinamis. Bukan dengan kegiatan hiburan semata, madrasah ini memilih untuk menyalakan api literasi di kalangan peserta didik melalui Lomba Majalah Dinding (Mading) Antarkelas yang digelar dalam rangkaian class meeting semester akhir tahun ajaran ini.
Lomba mading kali ini mengusung tema yang sangat relevan dengan generasi Z, yakni “Membangun Karakter Islami di Era Digital dan Gen-Z Peduli Lingkungan”. Setiap kelas ditantang untuk menyajikan artikel opini, puisi, karikatur, hingga pojok informasi yang informatif dan estetik dengan memanfaatkan perpaduan bahan daur ulang serta sentuhan teknologi QR Code. Kepala MAN 1 Muara Enim, Iin Parlina, menegaskan bahwa lomba mading ini sengaja dipilih untuk memberikan dampak jangka panjang bagi keterampilan berpikir kritis siswa.
“Kita tidak ingin class meeting hanya diisi dengan menyanyi atau olahraga yang sifatnya rekreatif saja. Melalui mading, siswa dipaksa untuk riset, menulis, berdiskusi, dan menyusun strategi visual. Ini adalah bentuk penguatan literasi yang nyata. Dampaknya, mereka belajar bagaimana menyuarakan ide dan solusi atas isu-isu terkini secara sehat dan kreatif,” ungkap Iin Parlina di sela-sela penilaian mading, Rabu (10/6/2026).
Ada yang berbeda pada gelaran lomba mading tahun ini. Panitia mewajibkan setiap kelas menyematkan QR Code pada mading fisik mereka. Ketika QR Code tersebut dipindai, pengunjung mading akan diarahkan ke versi digital yang berisi artikel lebih lengkap, video dokumenter pendek karya siswa, atau podcast buatan kelas tersebut. Ketua Panitia Class Meeting MAN 1 Muara Enim, menjelaskan bahwa inovasi ini berhasil meningkatkan antusiasme siswa yang mulanya menganggap mading sebagai media yang kuno.
“Awalnya ada yang mengira bikin mading itu membosankan. Tapi begitu konsepnya dipadukan dengan digital, semua langsung bersemangat. Ada yang bertugas jadi editor tulisan, ada yang mendesain tata letak fisik, dan ada yang rekaman podcast untuk versi digitalnya. Dampak yang paling saya rasakan adalah kerja sama tim. Komunikasi antar-teman kelas jadi jauh lebih solid,” kata Ketua Panitia Class Meeting MAN 1 Muara Enim.
Dampak positif dari lomba ini langsung terlihat di koridor sekolah. Area penempatan mading kini dipenuhi oleh ratusan siswa yang mengantre untuk membaca karya teman-teman mereka. Mereka saling berdiskusi, membaca artikel opini, bahkan mencoba memindai QR Code menggunakan ponsel masing-masing. Salah seorang juri lomba yang juga guru Bahasa Indonesia MAN 1 Muara Enim, Evi, mengaku sangat terkesan dengan kedalaman materi yang ditulis oleh para siswa. “Tulisannya tidak main-main. Ada kelas yang menyoroti tentang bahaya cyberbullying, ada yang menulis tips menjaga kesehatan mental remaja muslim, hingga solusi mengatasi sampah plastik di sekolah. Ini membuktikan bahwa literasi siswa kita sebenarnya sangat tinggi jika diberikan wadah yang tepat,” ujar Evi bangga.
Agar dampak dari kegiatan ini berkelanjutan, karya-karya mading terbaik tidak akan dibongkar begitu saja. Pihak madrasah berencana memajang mading-mading juara di area perpustakaan dan lobi MAN 1 Muara Enim sebagai sarana edukasi bagi tamu serta siswa baru pada tahun ajaran mendatang. Pengumuman pemenang lomba mading yang paling dinantikan ini rencananya akan disampaikan bersamaan dengan upacara penutupan class meeting dan pembagian rapor semester akhir. (Kmd)
